Posted by utu'
![]()
on 23/8/2008, 22:51:07, in reply to "Re: Sambut Ramadhan di Zaman Edan"
118.136.70.67
Alah itu Maha Tau,
Kan sudah diberikan Quran?
Semuanya sudah disitu.
--Previous Message--
: Zaman ini memang sudah zaman edan,sebabnya
: -baik orang Islam Kristen dan Yahudi sudah
: tidak lagi menggunakan Alkitab sebagai
: panduan berbangsa dan bernegara kelihatannya
: akan menjurus seperti kaum AD.
: Lihat saja orang yang dalam katagori baik
: hidupnya melarat,justru yang bejat-2 yang
: hidup mapan,bisa-2 orang yang imannya lemah
: akan membuat pertanyaan seperti-Apakah
: benar-2 bahwa Tuhan itu ada,kalau ada kenapa
: Tuhan membiarkan semua ini terjadi,kenapa
: Tuhan menjadikan agama yang bayak sehingga
: saling bunuh membunuh? dan masih bayak lagi
: pertanyaan-2 yang lain.
: Ataukah Tuhan ada tapi Tuhan tidak akan ikut
: caampur dalam urusan-2 manusia?karena dia
: sudah berlakukan hukum-2 sunatulahnya?
: Jawabannya mungkin ada dalam bukunya
: Prof.Dr.Azyu
: mardi Azra ,MA -sepintas kita lihat
: sampulnya namun belum sempat beli
: wasalm
: --Previous Message--
:
: Aswrwb,
:
: Sambut Ramadhan di Zaman Edan
:
: Memang susah jadi manusia saat ini. Karena
: sekarang ini katanya zaman edan, kalo nggak
: ikut edan nggak keduman. Makanya banyak
: anggota dewan yang makan dana siluman.
: Bahkan ketika ada anggota dewan yang
: terkenal ‘putih’ diingatkan agar jangan
: ikut-ikutan, tapi katanya dana itu sayang
: jika tidak dimanfaatkan, untuk modal
: bergerak dalam perjuangan. Maka sudah dike
: manakankah sosok iman, yang seharusnya
: Qur’an dan Sunnah jadi pedoman, yang bukan
: hanya semangat dan indah saat diucapkan,
: dalam kajian – kajian rutin pekanan.
:
: Katanya zaman kiwari, kalo nggak jual diri
: nggak makan nasi. Makanya sekarang banyak
: anak – anak gadis jual diri. Isteri – isteri
: buka ‘lapak’ dengan alasan bantu suami.
: Bahkan ada yang lebih parah sang ibu kandung
: jadi mucikari. Karena langganannya adalah
: para anggota Dewan yang baik hati. Dengan
: alasan membantu pemerintah mengentaskan
: kemiskinan di negeri ini. Apakah mereka
: sudah tidak punya harga diri, umbar aurat
: hanya demi sesuap nasi, seolah sudah tidak
: ada jalan keluar lagi, seolah jika tidak
: melakukan itu mereka akan mati. Bukankah
: rezeki sudah ditetapkan oleh Sang Robbul
: Izzati. Tinggal bagaimana langkah kita untuk
: menjemput rezeki. InsyaAllah rezeki yang
: halal itu telah menanti.
:
: Katanya zaman gila, kalo nggak gila nggak
: bahagia. Makanya keluarlah prinsip jika ada
: kesempatan kita sikat saja. Halal haram
: sudah dilupa. Uang korupsi dibilang untuk
: bisnis jualan permata. Yang penting rumah
: megah ada dua, mobil mewah ada lima serta
: banyak tanam modal dalam reksadana. Lupakah
: mereka bahwa dunia ini hanya sementara,
: dunia yang sifatnya fana, hanya menunggu
: saat berakhirnya. Bukankah kabar gembira
: telah datang kepada mereka, akan adanya
: syurga yang siapapun akan kekal didalamnya.
: Maka mengapa mereka tidak tergoda untuk
: masuk kedalamnya.
:
: Katanya zaman gendeng, kalo nggak sableng
: nggak dianggap gayeng. Makanya ada motto
: buat apa hidup dibikin puyeng. Buat apa
: harus terikat dengan aturan agama untuk
: hidup yang nggak langgeng. Ngegele di kamar
: kost dan pergaulan bebas barulah greng.
: Apakah mereka tidak mudeng? Bahwa perbuatan
: mereka hanya memuaskan para pemilik modal
: yang berotak gendeng.
:
: Katanya zaman mbeling, kalo nggak clubbing
: nggak dianggap orang penting. Makanya banyak
: orang yang hobi minum topi miring. Ada ayah
: yang menggauli anaknya sampai bunting.
: Berbuat amanah bukan lagi hal yang penting.
: Akibatnya banyak Anggaran Negara dan
: Anggaran Daerah yang digunting. Yang penting
: keluarga dan rekan kerja puas main banking,
: tak peduli banyak rakyat yang bunuh diri
: karena pusing. Lupakah mereka dengan hari
: yang genting. Di Yaumul Hisab kala amal
: mereka ditimbang ternyata banyak yang
: garing, dengan hadiah azab neraka yang
: mendengarnya saja bikin bulu kuduk
: merinding.
:
: Katanya zaman sedeng, kalo nggak sedeng
: nggak digandeng. Makanya banyak pemimpin
: yang tutup mata kala banyak pengusaha
: membangun bedeng. Bedeng untuk jual miras
: dan lokalisasi berbuat sedeng. Karena
: merekalah yang mensuplai dana kampanye
: Pilkada dan Pemilu untuk para Kanjeng.
: Sehingga setelah terpilih seolah mata mereka
: tertutup hordeng. Harusnya mereka tahu bahwa
: jabatan sebenarnya bagaikan kaleng, yang
: ketika diinjak kaki pastilah gepeng. Maka
: ketika menjabat seharunya mereka menutup
: bedeng – bedeng, yang membuat masyarakat
: berbuat sedeng.
:
: Katanya zaman kalabendu, orang yang berbuat
: lurus dianggap lucu. Makanya KKN adalah
: motto hidupku. Sekolah dan guru jualan buku,
: yang wajib dibeli oleh para wali murid yang
: pasrah mati kutu, padahal mereka lagi pusing
: untuk bayar SPP bulan lalu. Sedangkan mereka
: sudah digaji dari pajak rakyat jenis ini
: itu. Seharusnya mereka bahu membahu, untuk
: menghilangkan kebodohan yang sudah membeku,
: yang dirintis oleh para penjajah sejak
: ratusan tahun lalu. Sehingga ketika ditanya
: oleh Allah Yang Maha Tahu, sudahkah
: menunaikan kewajiban atas jabatanmu itu.
: Maka senyum merekah akan hadir dari bibirmu,
: lantas berikan bukti jutaan anak didik yang
: sekarang tunduk menyembah kepada Allah Yang
: Satu.
:
: Katanya zaman burik, jadi orang baik malah
: dihardik. Maka ketika nasehat diucapkan yang
: terjadi adalah polemik. Guru tak mau
: mendengarkan kebenaran dari anak didik.
: Tetangga tak mau diingatkan bahkan yang
: menasehati dibilang udik. Anak mengingatkan
: orang tua malah dibawaan badik. Bukankah
: Rosulullah datang untuk meningkatkan akhlak
: manusia menjadi baik. Buahnya adalah
: hubungan antara sesama adalah ibarat kilauan
: pelangi yang menarik. Sehingga ketika
: nasehat datang seharusnya yang terucap
: adalah labbaik.
:
: Saat berharap itu telah tiba
: Dikala zaman sungguh susah ‘luar biasa’,
: yang bisa membuat banyak orang putus asa,
: maka sambutlah bahwa ramadhan itu telah
: tiba. Sebuah bulan yang sungguh mulia, namun
: bisa saja dinanti atau dibenci oleh para
: pecinta, tergantung dari sudut mana ia
: melihatnya.
:
: Ada golongan para pecinta yang sangat
: bersuka cita dengan kedatangannya. Mereka
: menganggap saat berharap itu telah tiba.
: Berharap untuk keadaan diri dan negara. Agar
: zaman edan ini segera sirna. Saat untuk
: berharap keberkahanNya. Saat untuk berharap
: rahmatNya. Saat untuk berharap keampunanNya.
: Termasuk pula saat untuk berharap masuk ke
: dalam JannahNya dan terhindar dari
: nerakaNya. Merekalah para pecinta syurga.
:
: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
: kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
: bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan
: permohonan orang yang berdoa apabila ia
: memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu
: memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah
: mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
: berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh:
: 186).
:
: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
: memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu
: bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
: kepadamu, dan jika kamu mengingkari
: (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
: sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)
:
: Namun ada pula golongan para pecinta. Yang
: bermuram durja atas kedatangannya. Lapar
: dahaga dirasa begitu menyiksa. Sholat malam
: hanya bikin ngantuk saja. Dan bahkan
: beberapa profesi merasa kehilangan
: pemasukannya. Merekalah para pecinta dunia.
:
: Maka sahabat. Termasuk golongan yang manakah
: diri kita ini. Maka masih ada waktu untuk
: merenungkanya. Sehingga ketika Ramadhan itu
: tiba. Maka kita akan menjadi bagian golongan
: pecinta sesuai pilihan kita. Marhabban yaa
: Ramadhan…
:
: Catatan:
: keduman : kebagian
: kiwari : saat ini
: gendeng : gila
: puyeng : pusing
: ngegele : memakai narkoba
: greng : enak sekali
: mudeng : mengerti
: sedeng : selingkuh
: mbeling : nakal
: clubbing : mengunjungi kelab malam
: kalabendu : sengsara
: burik : tidak mulus
: hordeng : gorden/tirai
:
: wass
:
:
:
:


Message Thread:
![]()
« Back to thread