Posted by nanok on 23/8/2008, 22:30:33, in reply to "Sambut Ramadhan di Zaman Edan"
125.162.191.186
Zaman ini memang sudah zaman edan,sebabnya -baik orang Islam Kristen dan Yahudi sudah tidak lagi menggunakan Alkitab sebagai panduan berbangsa dan bernegara kelihatannya akan menjurus seperti kaum AD.
Lihat saja orang yang dalam katagori baik hidupnya melarat,justru yang bejat-2 yang hidup mapan,bisa-2 orang yang imannya lemah akan membuat pertanyaan seperti-Apakah benar-2 bahwa Tuhan itu ada,kalau ada kenapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi,kenapa Tuhan menjadikan agama yang bayak sehingga saling bunuh membunuh? dan masih bayak lagi pertanyaan-2 yang lain.
Ataukah Tuhan ada tapi Tuhan tidak akan ikut caampur dalam urusan-2 manusia?karena dia sudah berlakukan hukum-2 sunatulahnya?
Jawabannya mungkin ada dalam bukunya Prof.Dr.Azyu
mardi Azra ,MA -sepintas kita lihat sampulnya namun belum sempat beli
wasalm
--Previous Message--
: Aswrwb,
:
: Sambut Ramadhan di Zaman Edan
:
: Memang susah jadi manusia saat ini. Karena
: sekarang ini katanya zaman edan, kalo nggak
: ikut edan nggak keduman. Makanya banyak
: anggota dewan yang makan dana siluman.
: Bahkan ketika ada anggota dewan yang
: terkenal ‘putih’ diingatkan agar jangan
: ikut-ikutan, tapi katanya dana itu sayang
: jika tidak dimanfaatkan, untuk modal
: bergerak dalam perjuangan. Maka sudah dike
: manakankah sosok iman, yang seharusnya
: Qur’an dan Sunnah jadi pedoman, yang bukan
: hanya semangat dan indah saat diucapkan,
: dalam kajian – kajian rutin pekanan.
:
: Katanya zaman kiwari, kalo nggak jual diri
: nggak makan nasi. Makanya sekarang banyak
: anak – anak gadis jual diri. Isteri – isteri
: buka ‘lapak’ dengan alasan bantu suami.
: Bahkan ada yang lebih parah sang ibu kandung
: jadi mucikari. Karena langganannya adalah
: para anggota Dewan yang baik hati. Dengan
: alasan membantu pemerintah mengentaskan
: kemiskinan di negeri ini. Apakah mereka
: sudah tidak punya harga diri, umbar aurat
: hanya demi sesuap nasi, seolah sudah tidak
: ada jalan keluar lagi, seolah jika tidak
: melakukan itu mereka akan mati. Bukankah
: rezeki sudah ditetapkan oleh Sang Robbul
: Izzati. Tinggal bagaimana langkah kita untuk
: menjemput rezeki. InsyaAllah rezeki yang
: halal itu telah menanti.
:
: Katanya zaman gila, kalo nggak gila nggak
: bahagia. Makanya keluarlah prinsip jika ada
: kesempatan kita sikat saja. Halal haram
: sudah dilupa. Uang korupsi dibilang untuk
: bisnis jualan permata. Yang penting rumah
: megah ada dua, mobil mewah ada lima serta
: banyak tanam modal dalam reksadana. Lupakah
: mereka bahwa dunia ini hanya sementara,
: dunia yang sifatnya fana, hanya menunggu
: saat berakhirnya. Bukankah kabar gembira
: telah datang kepada mereka, akan adanya
: syurga yang siapapun akan kekal didalamnya.
: Maka mengapa mereka tidak tergoda untuk
: masuk kedalamnya.
:
: Katanya zaman gendeng, kalo nggak sableng
: nggak dianggap gayeng. Makanya ada motto
: buat apa hidup dibikin puyeng. Buat apa
: harus terikat dengan aturan agama untuk
: hidup yang nggak langgeng. Ngegele di kamar
: kost dan pergaulan bebas barulah greng.
: Apakah mereka tidak mudeng? Bahwa perbuatan
: mereka hanya memuaskan para pemilik modal
: yang berotak gendeng.
:
: Katanya zaman mbeling, kalo nggak clubbing
: nggak dianggap orang penting. Makanya banyak
: orang yang hobi minum topi miring. Ada ayah
: yang menggauli anaknya sampai bunting.
: Berbuat amanah bukan lagi hal yang penting.
: Akibatnya banyak Anggaran Negara dan
: Anggaran Daerah yang digunting. Yang penting
: keluarga dan rekan kerja puas main banking,
: tak peduli banyak rakyat yang bunuh diri
: karena pusing. Lupakah mereka dengan hari
: yang genting. Di Yaumul Hisab kala amal
: mereka ditimbang ternyata banyak yang
: garing, dengan hadiah azab neraka yang
: mendengarnya saja bikin bulu kuduk
: merinding.
:
: Katanya zaman sedeng, kalo nggak sedeng
: nggak digandeng. Makanya banyak pemimpin
: yang tutup mata kala banyak pengusaha
: membangun bedeng. Bedeng untuk jual miras
: dan lokalisasi berbuat sedeng. Karena
: merekalah yang mensuplai dana kampanye
: Pilkada dan Pemilu untuk para Kanjeng.
: Sehingga setelah terpilih seolah mata mereka
: tertutup hordeng. Harusnya mereka tahu bahwa
: jabatan sebenarnya bagaikan kaleng, yang
: ketika diinjak kaki pastilah gepeng. Maka
: ketika menjabat seharunya mereka menutup
: bedeng – bedeng, yang membuat masyarakat
: berbuat sedeng.
:
: Katanya zaman kalabendu, orang yang berbuat
: lurus dianggap lucu. Makanya KKN adalah
: motto hidupku. Sekolah dan guru jualan buku,
: yang wajib dibeli oleh para wali murid yang
: pasrah mati kutu, padahal mereka lagi pusing
: untuk bayar SPP bulan lalu. Sedangkan mereka
: sudah digaji dari pajak rakyat jenis ini
: itu. Seharusnya mereka bahu membahu, untuk
: menghilangkan kebodohan yang sudah membeku,
: yang dirintis oleh para penjajah sejak
: ratusan tahun lalu. Sehingga ketika ditanya
: oleh Allah Yang Maha Tahu, sudahkah
: menunaikan kewajiban atas jabatanmu itu.
: Maka senyum merekah akan hadir dari bibirmu,
: lantas berikan bukti jutaan anak didik yang
: sekarang tunduk menyembah kepada Allah Yang
: Satu.
:
: Katanya zaman burik, jadi orang baik malah
: dihardik. Maka ketika nasehat diucapkan yang
: terjadi adalah polemik. Guru tak mau
: mendengarkan kebenaran dari anak didik.
: Tetangga tak mau diingatkan bahkan yang
: menasehati dibilang udik. Anak mengingatkan
: orang tua malah dibawaan badik. Bukankah
: Rosulullah datang untuk meningkatkan akhlak
: manusia menjadi baik. Buahnya adalah
: hubungan antara sesama adalah ibarat kilauan
: pelangi yang menarik. Sehingga ketika
: nasehat datang seharusnya yang terucap
: adalah labbaik.
:
: Saat berharap itu telah tiba
: Dikala zaman sungguh susah ‘luar biasa’,
: yang bisa membuat banyak orang putus asa,
: maka sambutlah bahwa ramadhan itu telah
: tiba. Sebuah bulan yang sungguh mulia, namun
: bisa saja dinanti atau dibenci oleh para
: pecinta, tergantung dari sudut mana ia
: melihatnya.
:
: Ada golongan para pecinta yang sangat
: bersuka cita dengan kedatangannya. Mereka
: menganggap saat berharap itu telah tiba.
: Berharap untuk keadaan diri dan negara. Agar
: zaman edan ini segera sirna. Saat untuk
: berharap keberkahanNya. Saat untuk berharap
: rahmatNya. Saat untuk berharap keampunanNya.
: Termasuk pula saat untuk berharap masuk ke
: dalam JannahNya dan terhindar dari
: nerakaNya. Merekalah para pecinta syurga.
:
: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
: kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
: bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan
: permohonan orang yang berdoa apabila ia
: memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu
: memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah
: mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
: berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh:
: 186).
:
: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
: memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu
: bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
: kepadamu, dan jika kamu mengingkari
: (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
: sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)
:
: Namun ada pula golongan para pecinta. Yang
: bermuram durja atas kedatangannya. Lapar
: dahaga dirasa begitu menyiksa. Sholat malam
: hanya bikin ngantuk saja. Dan bahkan
: beberapa profesi merasa kehilangan
: pemasukannya. Merekalah para pecinta dunia.
:
: Maka sahabat. Termasuk golongan yang manakah
: diri kita ini. Maka masih ada waktu untuk
: merenungkanya. Sehingga ketika Ramadhan itu
: tiba. Maka kita akan menjadi bagian golongan
: pecinta sesuai pilihan kita. Marhabban yaa
: Ramadhan…
:
: Catatan:
: keduman : kebagian
: kiwari : saat ini
: gendeng : gila
: puyeng : pusing
: ngegele : memakai narkoba
: greng : enak sekali
: mudeng : mengerti
: sedeng : selingkuh
: mbeling : nakal
: clubbing : mengunjungi kelab malam
: kalabendu : sengsara
: burik : tidak mulus
: hordeng : gorden/tirai
:
: wass
:
:


Message Thread:
![]()
« Back to thread